Gadis Pantai (Karya : Pramoedya Ananta Toer)

Duh, saya mau mulai dari mana ya. Sejujurnya saya kurang percaya diri meresensikan karya Pram. Tapi saya coba, semoga sih bisa dinikmati. Jadi begini, pertama, buku-buku Pram sulit dicari, lumayan langka. Kalaupun ada, kebanyakan repro alias bajakan. Nah, Gadis Pantai yang saya punya ini original, asli. Kenapa buku-buku Pram sulit dicari? Saya juga tak tau. Coba nanti saya tanya ke ahli per-buku-an.

Oke, langsung ke inti: Gadis Pantai. Roman karya Pramoedya Ananta Toer cetakan pertama tahun 2003 yang diterbitkan oleh Lentera Dipantara ini berisi 270 halaman. Isinya bukan cuma sekedar cerita, tapi juga ilmu pengetahuan, sejarah bangsa. Maka pantas saja jika roman ini dikategorikan sebagai living book atau buku yang hidup.

Pram berkisah, Gadis Pantai lahir di sebuah kampung nelayan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Wajahnya yang manis, mata agak sipit, tubuh kecil ramping, dan kulit khas Wanita Jawa menjadikan Gadis Pantai sebagai bunga di kampungnya. Itu pula yang menjadi pemikat hati seorang pembesar santri setempat, yakni pria Jawa yang bekerja pada administrasi Belanda. Saat itu usia Gadis Pantai empat belas tahun. Iya, sedang ranum-ranumnya!

Bukan kepalang bangganya orang tua Gadis pntai. Putri kesayangannya bisa dikawini seorang pembesar. Seketika prestise keluarga nelayan itu pun langsung melonjak, tingkatannya naik 180 derajat. Gadis Pantai berganti gelar menjadi Bendoro Putri.

Namun sayang, nasib tak selalu berbanding lurus dengan bayangan. Kebahagiaan tak berlangsung lama, hanya sekejap saja. Nyatanya, Gadis Pantai dibuang setelah melahirkan seorang bayi perempuan. Ia terperosok kembali ke tanah, setelah dijulangkan ke langit tertinggi. Tak sesuai yang dibayangkan, Gadis patai hanya dijadikan sebagai Mas Nganten, yaitu perempuan yang melayani kebutuhan seks pembesar sampai kemudian sang pembesar memutuskan untuk menikah dengan perempuan yang sekelas atau sederajat dengannya. Dan, Gadis Pantai bukanlah satu-satunya.

Feodalisme yang penuh kemunafikan, tanpa adab, dan tanpa jiwa kemanusiaan, membuat siapapun yang membaca roman ini seperti teriris-iris sembilu. Perih, begitulah adanya kehidupan bangsa kita di zaman itu. Dalam usia yang sangat belia, Gadis Pantai kehilangan segalanya. Tidak punya suami, tidak punya rumah, dan anaknya pun dirampas pembesar Jawa untuk tetap tinggal di Rembang. Sedangkan Gadis Pantai akhirnya berputar arah ke kota kecil Blora. Sebab ia kadung malu untuk kembali ke kampungnya.

Kisah Gadis pantai hanya berhenti sampai disitu. Padahal, roman ini sebenarnya merupakan trilogi, namun tidak selesai. Dua buku lanjutan Gadis Pantai raib ditelan keganasan kuasa, kepicikan pikir, dan kekerdilan tradisi kuasa. Vandalisme Angkatan darat adalah penyebabnya. Di halaman lima buka ini, disebutkan bahwa Gadis Pantai pun dipastikan tak pernah ada jika saja pihak Univesitas Nasional Australia (ANU) di Canberra tidak mendokumentasikannya. Dan, lewat Savitri P. Scherer (mahasiswi yang mengambil tesis di seputaran proses kepengarangan Pramoedya di tengah golak budaya dan kuasa) mengirimkannya kembali kepada Pramoedya Ananta Toer, sang pengarang.

Bersyukur, buku Gadis Pantai berhasil diselamatkan. Inilah warisan bangsa. Melalui roman ini, Pram berhasil membongkar kontradiksi negatif praktik feodalisme Jawa yang tak beradab dan tanpa jiwa kemanusiaan.

“Mengerikan bapak, mengerikan kehidupan priyai ini.. Seganas-ganas laut, ia lebih murah dari hati priyayi.. Ah tidak, aku tak suka pada priyayi. Gedung-gedung yang berdinding batu itu neraka. Neraka-neraka tanpa perasaan”. – Pramoedya Ananta Toer.

-nads-

8 Januari 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *