Belajar dari Drupadi

“Apalah artinya Pandawa Tanpa Drupadi”

Drupadi. Karya penulis kesukaan saya, Seno Gumira Ajidarma. Sudah lebih dari dua kali saya mengulang buku ini. Para penikmat Seno pastinya tau, racikan kata per kata seno memang bikin candu. Tapi lebih dari itu, drupadi memberi kesan tersendiri bagi saya. Nyatanya, saya belajar dari Drupadi.

Drupadi diciptakan dari sekuntum bunga teratai yang sedang merekah. Kecantikannya amat gemilang hingga tak ada satupun wanita yang bisa menandingi. Pesonanya tersebar dari mulut ke mulut, hingga semua orang mendamba ingin menyaksikannya secara langsung.

Semua pria ingin memiliki Drupadi. Karena itu pula, sebagiannya justru membenci sebab tak bisa memiliki. Sedang para wanita menaruh kagum tiada tara, sambil di sebagian  hatinya pun membenci karena teramat iri akan segala pesona yang dimiliki Drupadi.

Drupadi merupakan sosok wanita cerdas. Dengan kekuatan dan kelembutannya, ia mampu memberi perlawanan atas penghinaan yang dilakukan Kurawa. Kisah Drupadi dalam buku ini juga menggambarkan bentuk pengabdian Drupadi kepada hidup yang dijalaninya. Perannya sebagai istri dari lima Ksatria Pandawa membawa Drupadi kepada kebahagiaan sekaligus kesengsaraan yang tiada terkira. Namun ia tetap setia kepada takdir yang telah menentukan jalan kehidupannya.

Drupadi yang dipuja-puja, pernah secara mebabi-buta dipecundangi di atas menja judi para suaminya, Pandawa Lima. Paras dan tubuhnya yang memesona, terkoyak nafsu dan intrik.

Namun sungguh, kecantikan tetaplah kecantikan. Pengabdian tetaplah pengabdian. Kebaikan tetaplah kebaikan. Meski jalan hidup diliputi kesengsaraan.

“Maka hidup di dunia bukan hanya soal kita menjadi baik atau menjadi buruk, tapi soal bagaimana kita bersikap kepada kebaikan dan keburukan itu”.

Drupadi : Satu Bunga untuk Lima.

-nads-

19 Desember 2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *